Saturday, March 7, 2009

Mengapa..


Sungguh prihatin bila saya lihat pandangan rekan-rekan saya terhadap situasi atau kejadian tertentu dalam kehidupan mereka. Mengapa..mereka sering membuat saya tak habis pikir
Mengapa..mereka masih saja "bertahan"menempati rumah yang jelas lokasinya tidak sehat, hanya karena percaya bahwa rumah itu membawa "hoki" atau rejeki bukankah malahan membawa bencana penyakit

Mengapa...tiap persoalan bagi sebagian mereka harus di selesaikan dengan jalan magic, kok malah dukun yang menjadi sasaran ketiban rejeki nomplok, berapun dimanapun sang dukun berada didatangi, padahal biasanya justru berakhir pada situasi yang semakin ruwet, bukannya mencari jalan keluar secara logika dan lapang dada.

Mengapa..mereka ketika melihat orang berhasilan mereka lalu menjawab" wah wajar saja dia mendapatkannya, kan saudara orang penting.." kenapa sulit sekali untuk mengakui dan menghargai prestasi seseorang karena kelebihannya

Mengapa.. Harus iri dan sakit hati apabila seorang mempunyai materi yang lebih dari kita, kenapa tidak mau menerima apa adanya rejeki yg ada pada kita

Mengapa...mereka tidak mau mencoba hal-hal baru yang baik,padahal diantara salah satu hal itu bisa membuat perubahan dalam hidup

Mengapa...orang yang lebih muda yang punya prestasi tidak pernah di beri kesempatan untuk diberi tanggung jawab penuh..kenapa harus yang tua saja konon penuh pengalaman.
Pendidikan pun belum berhasil sepenuhnya merubah sikap mental dan pandangan akibat pengaruh kultur masyarakat yang sudah terlanjur dan terbentuk. Mungkin penderitaan dan pengaruh akibat penjajahan dan sistem feodalisme serta kepercayaan animisme dimasa lampau masih berkepanjangan dan membekas hingga kini. Hal ini memakan waktu lama untuk sama sekali terlepas dari belenggu tradisi dan terbebas dari pengaruh pikiran yang memperuwet dan mempersempit ruang gerak, tindakan dan sikap kita. Moga anak2 kita kelak terlahir sebagai manusia-manusia yang berkepribadian "utuh", berpikiran jernih dan beragama yang benar. "Buat anakku tercinta Gebrilla ananda putri"

6 comments:

Anonymous said...

pertanyaannya sememang sangat menggelitik hati, jiwa, dan raga.
adakah kita peduli dengan sesama?
adakah kita peduli dengan masa depan anak keturunan kita?
dan masih banyak pertanyaan yang terlontarkan.
adakah kita bisa menjawabnya dengan objektif?
adakah kita bisa membantu memecahkan masalah atas pertanyaan tersebut?

Anonymous said...

mantap komandan dino nih...tulisannya simpel tapi mantap maknanya dalam no kalau bolek kasih saran teruslah berkarya dan pertahankan kalau perlu ditingkatkan dan periode pemilu berikutnya jadi caleg, tentunya 5 tahun lagi dah ngetop karena ngeblog, bgmna dg komunitas blogger singkep

Anonymous said...

Buat sahabatku http://eri-communicator.blogspot.com, kwn nak jd bupati aje biar dpt megang saham di BPD Riau he..he

Anonymous said...

Senang melihat orang lain susah, Susah melihat orang senang.....,

Yang muda, Yang dipandang sebelah mata....

Weleh...malah ngiklan.....:)

the beauty of riau said...

dino kalau hendak menjadi bupati sebaliknya jalin komunikasi dan koneksi dengan pengusaha lokal khan banyak china yuh disana, dan juga aktif ikut organisasi, LSM. ataupun parpol. Yang pasti saya no akan menjadi tim sukses dinoe, nanti kawan buat dinoe centre, kawan yang akan merangkul orang-orang Lingga di Pekanbaru atau Riau

Anonymous said...

merubah paradigma memang membutuhkan waktu..tapi tetap harus dimulai ya.. dari diri kita sendiri..keluarga..baru ke lapisan masyarakat yang lebih luas...

nice post :)